IPDN == STPDN …….. (Bentuk Pelajaran dan Introspeksi Bangsa)

Cuma mau sedikit berbagi komentar dan sedikit memberi pendapat, dan semoga bisa memberi pembelajaran dan instrospeksi diri.

Seperti telah di ketahui bersama bahwa sering terjadi kekerasan di IPDN (dulu STPDN), tentu masih teringat kita akan kasus Wahyu Hidayat pada tahun 2003 silam. “tak kira dulu itu STPDN udah di bubarin eh ternyata cuma ganti nama ya (telat sih cuma kok ternyata tetep sama aja ya :):))”.

Setelah kemaren saya melihat video amatir di www.youtube.com dari rekaman metrotv, saya berfikir kembali tentang keberadaan IPDN –> “saya lebih suka menyebutnya STPDN dan saya langsung berkomentar jangkrik, astagfirullah..”.

Kok bisa ya manusia berbuat begitu terhadap orang lain, apa lagi dalam posisi itu dia adalah orang yang berpendidikan?

Coba kita interospeksi diri kita bukan hanya kejadian di IPDN, kita lihat bagaimana bentuk bangsa ini, karakter-karakter manusia di dalamnya. Negeri ini dulunya di bentuk oleh orang-orang yang memiliki rasa kebanggaan, kebersamaan, kekeluargaan yang tinggi. Dan mereka juga berani, tegas, tanpa kompromi. Sehingga lahirnya negeri kita tercinta ini (yang mungkin saat ini sedang sakit).

Setelah terbentuk negeri ini membutuhkan pemimpin-pemimpin penerus yang diharapkan mampu melanjutkan cita-cita para pemimpin-pemimpin yang telah berhasil membentuk dan mengawali negeri ini. Pemimpin bukan hanya di tingkat pusat tetapi juga pemimpin di tingkat-tingkat di bawahnya seperti yang sudah terstruktur saat ini Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, dsb.

Kembali ke STPDN yang saya sendiri kurang tau nanti lulusannya mau menempati posisi mana saja seperti urain diatas tentunya di harapkan bisa melanjutkan cita-cita tersebut, tapi sekali lagi setelah melihat tayangan tersebut saya malah menjadi pusing. Saya jadi bingung dengan apa yang dipikirkan oleh negara ini, jika masih mempertahankan hal tersebut (atau barang kali sudah terlambat untuk memperbaiki kerusakan ini). Bagaimana mungkin seseorang yang di bentuk dengan kekerasan di jadikan pemimpin, untuk membantu kita menciptakan kehidupan yang aman dan sejahtera. Apakah hanya dengan alasan displin, menghargai orang lain (senior), membentuk mental, dll.“saya rasa tidak”

Sedikit cerita ;  saya pernah menjadi panitia OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) di kampus saya tercinta. Posisi saya sebagai instruktur yang bekerja di Lapangan. Dimana konsep yang akan saya lakukan di lapangan di tentukan oleh SC (tim penggagas dan pengonsep) dan di rundingkan dengan para pelaku di lapangan yaitu instruktur. Dimana dalam melaksanakan OMB ada beberapa titik hal yang di perhatikan (dan memang hampir sama dengan tujuan di STPDN dan hampir semua pendidikan di Indonesia) yaitu kedisiplinan, kecintaan terhadap kampus, negara dan bangsa, dll. Dan dalam pelaksanaannya-pun juga sedikit banyak mengalami permasalahan, seperti terdapat adik-adik maba(mahasiswa baru) yang tidak menghargai almamater, tidak disiplin, wis pokoknya (sak karepnya sendiri). Jadi dari kejadian tersebut di buatlah peraturan yang memberikan hukuman fisik seperti push-up. Juga penekanan mental dengan cara memojokan maba terhadap permasalahan yang di hadapi (seperti alasan kenapa terlambat, tidak memenuhi penugasan) agar memberikan solusi yang tepat dalam waktu yang singkat. “INI YANG JADI TARGET”. Tapi dalam kenyataanya, semua tidak dapat berjalan dengan baik karena tidak semua mahasiswa bisa tahan terhadap tekanan mental (membutuhkan cara sendiri untuk membentuk mental mereka), tekanan fisik (tidak semuanya tahan mendapat tekanan fisik), dll.

Intinya setelah menjadi INSTRUKTUR itu saya berfikir ; bagaimana jika menerapkan hal yang lain, seperti sebuah acara penyambutan yang ramah, bersahabat, penuh kekeluargaan dan kebersamaan. Apakah akan menghasilkan generasi penerus yang lemah, tidak kristis, tidak cinta almamater, bangsa dan negara. Tapi kalau di gitukan (pikiran seorang senior yang lain) kok mereka nggak menghargai kita ya, masih maba kok udah sok ya, dll.

Secara keseluruhan adalah saya berpendapat bahwa kekerasan tidak dapat membentuk karakter seseorang menjadi ramah, siap mengapdi pada lingkungan, rela berkorban terhadap orang lain, atau menjadi bersimpati terhadap orang lain tapi yang dihasilkan adalah timbal balik dari kekerasan itu sendiri kebencian terhadap orang lain, rasa dendam, rasa ingin mengalahkan orang lain dengan berlebihan, dll.

Kembali ke STPDN, jika hal itu yang terjadi pada pemimpin negeri ini😥 (saya tidak dapat membayangkan nanti akan seperti apa). Lalu coba bayangkan jika kita membentuk negeri ini dengan penuh kasih sayang seperti yang di ajarkan orang tua kita waktu kecil terhadap orang lain. {Nak itu pak Sholeh tentangga sebelah menyapa, dibalasa ya “ica. iya. da da“}{ini bonekanya, nak bilang apa “makacih ya“}, dll. Bayangkan apa yang akan kita peroleh, bahkan mimpi untuk membentuk negara yang maju, sukses, aman, sejahtera, dan sentosa bukan hanya mimpi.

Jadi marilah kita berfikir dan merenung. Tidak usah kita berfikir : benarkah tindakan kita dan salah kah tindakan orang lain, bubarkan STPDN ganti dengan yang lebih baik, pak PRESIDEN turun tangan dong masak tempat pendidikan dijadikan ajang penganiayaan. Atau berfikir seperti ini : halah emang negara ini udah bobrok dari dulunya, biarin aja dech orang bukan aku yang mati, paling ntar juga ganti nama lagi, dll.

Coba kita pikirkan bagaimana kita bisa membentuk generasi penerus yang berjuang dan menjani hidup untuk kepentingan orang lain bukan hanya kepentingan sendiri saja (egois) yang sangat menyayangi lingkungan, keluarga, orang-orang di sekitarnya. Mulai dari Presiden, Aparat Pemerintah yang lain, Mahasiswa, Dosen, Pengusaha, Aparat Keamanan, Laki-laki, Perempuan, Sopir, Pengamen, PSK, Penjual koran, Guru, Pemulung, dan semua poin yang membentuk kehidupan berbangsa saat ini.

Tetap tersenyum duniaku, tetap bertahan bangsaku, jayalah selalu agamaku.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar.

Tentang syafur

aku adalah yang orang liat dan pikirkan
Pos ini dipublikasikan di Pemikiran-Ku. Tandai permalink.

3 Balasan ke IPDN == STPDN …….. (Bentuk Pelajaran dan Introspeksi Bangsa)

  1. aulia berkata:

    saya tidak menyalahkan kalau kak irfan (ehheemm..!!) berpendapat seperti itu.
    karena kenyataannya memang seperti itu.
    cuma itu sedikit mengurangi harapan saya yang bercita2 untuk sekolah di STPDN atau IPDN.
    kalau sekolahnya dibubarkan otomatis saya tidak mungkin sekolah disitu khan?!

    kita sama2 tahu tentang berita2 STPDN yang sudah banyak dipublikasikan, tapi apakah itu berarti sekolah negara yang megah itu hanya sebuah isapan jempol yang tidak bisa diambil sisi positifnya?

  2. syafur berkata:

    maaf, bukan maksud saya untuk semakin memperburuk citra IPDN.
    tapi maksud saya adalah sistem yang di ciptakan di dalamnya.

    Saya sendiri juga berpikiran kalau dana yang di keluarkan pemerintah untuk IPDN tidak sedikit. Jadi sungguh sayang jika tempat semegah itu di sia-siakan. Semoga saja pemerintah dapat merubah sistem di dalam IPDN.

  3. wiwik rumingsih berkata:

    aku pngen bnget untuk bisa melnjutkan cita -citaku ke STPDN karna itulah aku berusaha sekuat mukin untu bisa mencapai pa yg aku inginkan ,,,,,
    dan setelah aku baca semuanya aku setuju bnget dengan pa yg di bilang sama semua orang bhwa kita harus bisa memajukan bangsa ini menjadi maju dan terdepan,,,,
    semngat,,,semangat,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s